oleh

Kabupaten Grobogan Menuju Kabupaten Literasi

Workshop Gerakan Literasi Sekolah 2018 Kab Grobogan

Sekitar 500 guru se Kabupaten Grobogan mengikuti Workshop Gerakan Literasi Sekolah 2018 di Firdausia Ballroom, Kyriad Hotel Purwodadi, Jumat (23/2). Kegiatan ini berlangsung tiga hari berturut-turut dan berakhir pada Minggu (25/2). Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan sebagai penyelenggara mengadakan program ini guna mendukung Grobogan sebagai kabupaten literasi sesuai dengan arahan Bupati pada tahun 2016 lalu. Hal itu disampaikan langsung Achmad Bushori, ketua panitia.

Hadir dalam kegiatan ini, Ka Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat MM yang membuka secara resmi workshop tersebut. Disampaikan Amin, kegiatan literasi ini tidak hanya sekedar program saja tetapi dengan adanya gerakan literasi ini menciptakan sinergi antara lembaga pendidikan dengan pihak yang berkompeten di bidangnya.

“Tadi juga ada pengukuhan relawan literasi Grobogan yang ke depannya akan merintis kampung-kampung literasi,” papar mantan Kepala SMAN 1 Purwodadi ini.

Dalam kegiatan ini, terlihat antusiasme para guru. Dari yang tidak tahu apa itu literasi menjadi tahu dengan adanya workshop ini. “Sebenarnya saya belum paham benar dengan adanya literasi ini. Tetapi pas tahu artinya gerakan literasi ini gerakan membaca kepada para siswa, saya jadi ingin menggalakkan budaya membaca kepada siswa saya. Apalagi saya ini gemar membaca juga,” kata Djajus, kepala SDN 3 Jangkungharjo, Brati ini.

Satria Dharma yang menjadi narasumber dalam kegiatan jni menyatakan budaya membaca di kalamgan pelajar sejauh ini belum menggembirakan. “Artinya perlu dorongan banyak pihak untuk meningkatkan minat baca. Selain itu, perlu pemahaman yang lebih pada siswa tentang pentingnya membaca ini,” jelas anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari Kemendikbud.

Menurutnya, GLS ini telah diatur dalam Permendikbud No 23/2015. “Grobogan akan mampu menjadi pelopor literasi jika ada guru yang mau jadi pelopor dengan mengajak siswanya untuk gemar membaca . Kunci kemajuan minat baca pada siswa terletak pada guru,” jelasnya.

Saat ini program literasi di Indonesia masih berada di peringkat terendah menurut Program for International Student (PISA). Adanya kemajuan teknologi berpengaruh langsung pada merosotnya daya baca terhadap para generasi bangsa di Indonesia ini. “Dengan program GLS ini, para siswa diharapkan bisa meluangkan waktu 15 menit membaca buku di luar sekolah untuk mendorong minat baca siswa,” paparnya.

Selain Satria Dharma juga hadir Dewi Utama Fauziah dari Kemendikbud, Dharma Saatra dari Tarakan, Ameliasari T Kesuma dari Salatiga, BM Astu dan Erwin NS seniman literasi dari Grobogan serta Handoko Widagdo, penggerak program literasi Kalimantan Utara.

Komentar

Berita Terbaru