oleh

Jembatan Lusi Yang Baru Akan Segera Dibangun

Belasan Rumah Terancam Digusur Karena Pembangunan Jembatan Lusi Yang Baru

Belasan rumah di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi dan desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan yang dekat dengan pembangunan jembatan baru di Jl. Jenderal Sudirman, akan digusur. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Barkah, Kepala BPT Bina Marga Jawa Tengah Wilayah Purwodadi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis(3/5/2018).

“Saat ini, tanah yang dibebaskan merupakan hak milik pribadi. Ada belasan bidang tanah yang akan dibebaskan di sisi utara dan selatan Sungai Lusi,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hambatan dalam pembebasan tanah warga, pembangunan fisik jembatan akan diundur pada 2020 mendatang.

Jembatan Lusi Yang Baru Akan Segera Dibangun

“Pembebasan tanah biasanya akan menemui kesulitan dan memerlukan waktu lama. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pembangunan fisik akan diundur pada tahun 2020. Untuk pembebasan  yang di sisi sebelah utara  sudah deal.  Memang dari pengalaman, pembebasan tanah sulit. Jadi akan memakan waktu cukup lama,” ungkap Barkah.

Untuk DED(Detail Engenering Desain) jembatan ini sudah siap. Namun, jika ada pihak yang keberatan  dan  ada kesulitan dalam proses pembebasan, maka DED dipastikan dapat berubah.

“Memang saat ini DED sudah ada. Jika pembebasan tidak clear, maka DED bisa diubah dengan bantuan konsultan yang ada,” katanya.

Dijelaskan juga, untuk pembangunan fisik jembatan, pihaknya telah mengusulkan dana sebesar Rp 22 Milyar, menggunakan kontruksi beton.

“Sedangkan untuk ukuran jembatan, tidak jauh berbeda dengan jembatan lama. Lebarnya sekitar 7 meter,” tambahnya.

Jembatan baru di sisi barat ini nanti rencananya akan digunakan sebagai jalur kendaraan dari selatan. “Sedangkan kendaraan dari utara akan melewati jembatan lama di sisi sebelah timur,” tambahnya.

Jembatan Lusi Yang Baru Akan Segera Dibangun

Salah seorang warga gang Jajar  Purwodadi, Ngatiman mengaku khawatir dengan akan dibangunnya jembatan di sebelah timur rumahnya. Hal itu dikarenakan akan timbulnya dampak negatif dalam pembangunan jembatan tersebut.

“Saat jembatan pertama, yakni pada tahun 1972, menimbulkan longsornya tanah milik warga. Memang membangun ini positif, namun jika menimbulkan dampak negatif jadi tidak baik. Sebaiknya warga terdampak juga dikumpulkan, sehingga tahu. Sampai adanya DED, warga sama sekali tidak pernah dilibatkan,” jelasnya.

Ngatiman serta para warga yang rumahnya terdampak pembebasan lahan berharap dinas terkait segera mengambil langkah agar warga terdampak tidak khawatir dengan pembangunan tersebut. “Jika ada pelebaran jalan menuju jembatan baru, warga di Jajar akan kesulitan jika akan masuk. Solusinya bagaimana, kita harus tahu,” tegasnya.

Tentang Penulis: Hana

Penulis yang independen yang sangat mengedepankan informasi yang akurat untuk memberikan edukasi yang baik dan benar kepada mayarakat luas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Post Terbaru