oleh

Kartini Lintas Iman : “Perempuan Itu Wadah Bersemainya Kehidupan”

-SOSIAL-432 views

Purwodadi – Sepekan yang lalu, peristiwa bom bunuh diri terjadi di Kota Surabaya. Setelah diidentifikasi, pelaku bom bunuh diri ternyata melibatkan perempuan dan anak-anak. Sementara itu, dari data korban bom, beberapa diantaranya perempuan serta dua orang anak. Hal ini menjadi refleksi bagi kaum Kartini Lintas Iman. Sebuah wadah beranggotakan para wanita lintas iman yang ada di Kabupaten Grobogan.

Bertempat di halaman Klenteng Hok An Bio, jalan Suhada Purwodadi, Minggu (20/5/2018) acara tersebut berjalan dengan lancar. Para peserta yang hadir dari berbagai agama hening dan berdoa bersama berdasarkan keyakinannya masing-masing.

Acara tersebut dipimpin oleh Yanne Erikha Sari. Yanne, yang juga pendeta perempuan di GKJ Purwodadi menuturkan kegiatan ini bertujuan merefleksikan apa yang terjadi sepekan lalu di Kota Surabaya.

Doa Kartini Lintas Iman

“Kegiatan ini merupakan reffleksi sepekan atas aksi terorisme Surabaya. Kami prihatin pelakunya perempuan dan anak-anak juga. Karena itu, acara siang tadi dari perempuan untuk perempuan. Kami melakukan doa hening lalu udar rasa (berbagi cerita),” ungkap Yanne, sapaan akrabnya.

Diakui Yanne, saat hening bersama, masing-masing peserta masih menahan untuk tidak menumpahkan air matanya. Terlihat mereka begitu khusyuk merenungi peristiwa tersebut.

Namun, air mata mereka harus tumpah ketika sesi berbagi cerita. Mereka mulai prihatin, marah dan emosi karena ada pelaku bom bunuh diri dari kaum perempuan.

“Kami sedih dan prihatin sekaligus sebenarnya marah, kok ada yang egois banget, padahal perempuan itu panggilannya sebagai wadah bersemainya kehidupan. Dada dan rahimnya itu kan di setting utk kehidupan malah sekarang jadi pemusnah,” jelas perempuan berputra satu ini.

Hal yang unik juga terlihat di kegiatan ini. Beberapa kain selendang dengan motif polos maupun batik digelar di halaman klenteng tepat di depan para peserta. Juga terdapat benih-benih tanaman dalam wadah pot yang disimbolkan sebagai benih-benih kehidupan.

“Semuanya simbol kehidupan. Jadi kita berdoa tidak menggunakan simbol agama tapi kehidupan karena mestinya semua agama prokehidupan. Selendang-selendang ini ada yang dibawa pulang, ada yang dibagikan, maksudnya siapapun boleh membawa pulang. Jadi simbol doa kami maksudnya Allah memberkahi kehidupan mengalir kepada semua tanpa memilih agama dan simbol aliran rahmat ini adalah selendang,” tambah alumnus Teologi UKDW Yogyakarta ini.

Belasan Kartini Lintas Iman ini datang dari berbagai daerah seperti Tawangharjo, Grobogan, Penawangan dan Purwodadi. Mereka berdoa, bergandengan tangan, menumpahkan rasa dan saling menguatkan selama dua setengah jam dimulai pukul 12.30-15.00.

“Perjuangan untuk mewujudkan acara ini juga membuat haru. Acara ini digagas tiga perempuan yakni dari PMII, GKJ dan GKI, serta dari Klenteng. Namun yang patut ditegaskan adalah kami para perempuan lintas iman di Grobogan terus berupaya memperkuat komunikasi dan persaudaraan. Sebagian dari mereka ada yang sudah menyatakan kesediaannya datang di acara lintas iman selanjutnya,” pungkas Yanne.

 

Tentang Penulis: Hana

Penulis yang independen yang sangat mengedepankan informasi yang akurat untuk memberikan edukasi yang baik dan benar kepada mayarakat luas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Post Terbaru