oleh

Kirab Ketupat Syawalan Kabupaten Grobogan

-WISATA-629 views

Kirab Ketupat Syawalan , Ingatkan Grobogan Tempat Paling Bersejarah di Jaman Kerajaan

Suasana berbeda terlihat pada  Selasa (19/6/2018) sore. Di hari lebaran kelima ini diwarnai dengan rangkaian acara kirab ketupat syawalan bumi Ki Ageng. Berlokasi di Alun-alun Purwodadi, rangkaian ini melibatkan puluhan orang dan mampu memancing animo ratusan masyarakat yang kebetulan berada di kompleks Alun-alun Purwodadi.

Ganis Harsono, ketua panitia kegiatan ini mengatakan pagelaran kirab ketupat syawalan ini ditujukan untuk mengangkat kembali tlatah Grobogan sebagai bumi para Ki Ageng. “Tujuan kita ini yaitu ingin menggugah kembali kesadaran masyarakat Kabupaten Grobogan khususnya dan di Jawa Tengah pada umumnya serta secara luas di wilayah Nusantara bahwa Bumi Grobogan pernah menjadi mercusuar peradaban sejak terciptanya aksara jawa oleh Ajisaka pada saat kerajaan Medang Kamulan berjaya. Kira-kira jauh sebelum masa keemasan kerajaan Sriwijaya dan Singosari atau Majapahit apalagi Mataram Islam,” jelas pria yang akrab disapa Ganis ini.

Menurut Ganis, Grobogan dinilai mempunyai latar belakang sejarah yang sangat penting. Hal ini dilihat dari banyaknya tempat bersemayamnya para leluhur para raja Nusantara seperti Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Lembu Peteng, Ki Ageng Getas Pendawa, Ki Ageng Selo, dan Ki Ageng Sungging.

Di samping itu dengan kegiatan kirab tersebut, Ganis mengharapkan agar masyarakat Kabupaten Grobogan harus mau terlibat aktif menjadi pelopor kebangkitan peradaban yang memuliakan serta memanusiakan manusia. “Kemanusiaan yang adil dan beradab seperti yang tertera pada sila kedua Pancasila karena kemanusiaan adalah satu,” tambah Ganis.

Ditambahkan Ganis, tujuan lain dari kegiatan ini didasari dengan keprihatinan Ganis dan teman-temannya akan maraknya gesekan kepentingan seperti pragmatisme, intoleransi, radikalisme yang destruktif, dan sebagainya. “Ibarat selah hanya memiliki sebatas satu tarikan nafas kita, yang bisa berubah dengan spontanitas liar dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Ini kalau tidak dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya olah budi pekerti yang memuliakan nilai-nilai kemanusiaan maka sejarah akan mudah dilupakan,” katanya. Dian, warga Kalongan yang kebetulan  menonton jalannya kirab ini sangat antusias dengan kegiatan ini.

“Saya kebetulan sedang mudik di Purwodadi.Di lingkungan tempat tinggal saya tidak pernah ada tontonan seperti ini. Tetapi setelah lihat acara seperti ini sangat baguslah untuk memotivasi anak-anak saya,” komentar perempuan 31 tahun ini yang sudah 10 tahun merantau ke Karawang. (hana)

Tentang Penulis: Hana

Penulis yang independen yang sangat mengedepankan informasi yang akurat untuk memberikan edukasi yang baik dan benar kepada mayarakat luas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Post Terbaru