oleh

Asal Usul Tradisi Asrah Batin Sungai Tuntang

-WISATA-611 views

Ngumpulke Balung Pisah Di Acara Asrah Batin

Grobogannews.com, Kedungjati. Ngumpulke Balung Pisah adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti mengumpulkan kembali sanak saudara yang telah lama berpisah. Ungkapan tersebut lebih pantas disematkan pada tradisi Asrah Batin yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali di kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan. Tradisi ini adalah tradisi nenek moyang yang menceritakan bertemunya kembali saudara tua dan saudara muda atau yang akrab disebut masyarakat setempat kedhana-kedhini.

Tahun 2018 ini, tradisi tersebut kembali digelar setelah dua tahun sebelumnya acara serupa dilaksanakan. Minggu (29/7/2018) pagi, ratusan masyarakat dari desa Karanglangu, kecamatan Kedungjati berjalan beriringan melewati hutan sejauh tiga kilometer untuk sampai ke tepi sungai Tuntang yang menjadi batas antara desa Karanglangu dan Ngombak.

Tradisi Asrah Batin Sungai Tuntang

Kabupaten Grobogan dikenal sebagai kabupaten yang memiliki banyak sekali kesenenian dan budaya. Satu diantaranya adalah tradisi Asrah Batin. Tradisi ini terdapat di Kecamatan Kedungjati, sebuah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Semarang. Mereka terdiri dari berbagai golongan usia yakni, anak, remaja, pemuda dan orang tua berjalan mengantarkan Kedhana (yang diperankan Kades Karanglangu) beserta istrinya menuju ke desa Ngombak untuk menemui saudara kandungnya, Kedhini, yang diperankan oleh istri Kades Ngombak. Hal itu tidak terlepas dari sejarah asal usul terjadinya tradisi tersebut.

Berada di barisan depan yakni Kades Karanglangu beserta istri. Kades Karanglangu mengenakan busana adat Jawa yakni beskap dan jarik lengkap dengan keris yang terpasang di belakang punggungnya. Sementara untuk istri Kades mengenakan kebaya khas Jawa lengkap dengan sanggul dan make up nuansa Jawa. Mereka jalan berarakan hingga sampai ke tepi Sungai Tuntang yang merupakan perbatasan antara desa Karanglangu dan Ngombak. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh warga masyarakat desa Ngombak. Mereka lalu menyeberangkan para warga dengan menggunakan gethek (rakit). Sedangkan Kades Karanglangu beserta istri menaiki joli (semacam kapal tandu).

Sesampainya di tepi sungai, rombongan warga dari desa Karanglangu disambut masyarakat desa Ngombak dengan ritual menabur bunga. Setelah itu, mereka juga diwajibkan ikut serta mengantar rombongan sampai ke rumah Kepala Desa Ngombak, yang berada di dusun Metuk ini.  Di rumah kepala desa Ngombak, dua kepala desa tersebut meminum air dari kendi yang telah disiapkan sebagai tanda persaudaraan dan persahabatan kedua desa ini. Usai meminum air kendi, Kades Karanglangu beserta rombongannya dijamu dengan makanan dan minuman. Sementara warga desa Karangalangu yang berkunjung ke desa Ngombak ini dijamu dengan hiburan khas Jawa yakni gamelan lengkap dengan sindhen (penyanyi Jawa) dan juga tarian khas Kabupaten Grobogan yakni Tayub.

Tradisi Asrah Batin Sungai Tuntang

Tradisi Asrah Batin ini bermula dari cerita adanya dua saudara yakni laki-laki dan perempuan yang terpisah sejak kecil. Mereka dikenal masyarakat dengan sebutan Kedhana Kedhini. Ketika sama-sama sudah dewasa, suatu hari si Kedhana melihat Kedhini di tepi sungai. Ia pun langsung terpikat kepada Kedhini. Hingga memutuskan untuk melamar perempuan itu. Saat menjelang lamaran, si Kedhini merasa mengenal pria yang hendak melamarnya ini. Ia merasa bahwa si Kedhana itu adalah kakak kandungnya yang telah lama berpisah sejak mereka kecil.

Untuk meyakini kebenarannya, si Kedhini mencoba metani (mencari kutu di rambut) Kedhana. Ternyata memang ada bekas pukulan centhong (sendok nasi). Tidak disangka dengan cara tersebut, kedua saudara ini telah dipertemukan melalui pesta lamaran ini. Mereka pun memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan. Karena sudah terlanjur menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk acara lamaran itu, mereka bersepakat untuk melakukan syukuran atas pertemuan mereka setelah bertahun-tahun tidak lagi bertemu.

Hadir juga dalam kegiatan ini Bupati Grobogan Hj Sri Sumarni beserta jajarannya, Ketua DPRD Kabupaten Grobogan Agus Siswanto, perangkat kecamatan Kedungjati serta perangkat desa Karanglangu dan Ngombak. Dalam sambutannya, Camat Kedungjati Wonoto SH mengucapkan rasa syukurnya karena acara Asrah Batin ini berjalan dengan lancar. “Alhamdulilah, hari ini perayaan tradisi Asrah Batin ini telah selesai. Tradisi turun-temurun ini tetap diadakan meski seiring berjalannya perkembangan zaman yang semakin maju,” papar Wonoto.

Wonoto mengingatkan bahwa tradisi ini memiliki manfaat yang baik untuk generasi muda. “Setiap tradisi, seperti tradisi Asrah Batin ini, diselenggarakan sangat baik sekali agar kita selalu ingat dengan sejarah,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Hj Sri Sumarni mengucapkan terima kasih kepada panitia yang menyelenggarakan tradisi ini. “Tradisi Asrah Batin ini adalah bagian dari kekayaan dan keunikan budaya yang ada di Kabupaten Grobogan, tepatnya di desa Ngombak dan desa Karanglangu. Berawal dari adanya cerita pertemuan dua saudara yang telah lama berpisah. Di mana dalam pertemuan itu masing-masing telah menjadi Lurah Karanglangu dan Lurah Ngombak. Mereka merupakan saudara laki-laki dan perempuan yang akrab disebut Kedhana-Kedhini,” kata Bupati Grobogan.

Bupati juga menjelaskan ada makna yang dapat diambil dari kegiatan ini yaitu nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. “Yaitu adanya kepatuhan terhadap larangan tidak boleh ada pernikahan dengan saudara tunggal sedarah. Selain itu juga terdapat nilai silaturahmi, kebersamaan, rukun, gotong royong, tolong menolong, giat bekerja, dan wujud syukur kepada Allah atas limpahan anugerahNya,” tambah orang nomor satu di Kabupaten Grobogan ini.

Dari beberapa ritual yang dilakukan dalam tradisi Asrah Batin, ritual berebut makanan adalah yang paling ditunggu masyarakat. Didahului dengan doa, masyarakat menunggu di depan pintu rumah Kades Ngombak. Usai doa, mereka langsung menyerbu nasi dan lauk pauk yangsudah dipersiapkan di bagian belakang rumah Kades Ngombak. Nasi beserta lauk pauknya ini dibungkus dengan daun jati. Sebelumnya mereka juga mengolesi kedua pipinya dengan bedak dingin. Mereka percaya dengan ritual ini mendapatkan banyak berkah selama hidupnya. “Kalau pakai bedak dingin ini dipercaya biar awet muda. Kalau berebut makanan karena sudah menjadi tradisinya seperti itu. Setiap ada Asrah Batin ini saya sering datang kemari,” kata Parti, warga setempat ikut meramaikan acara tersebut.

Selain warga setempat juga para wisatawan datang ke acara ini. Mereka datang karena rasa penasaran. Di antara wisatawan tersebut, Friska, warga Salatiga yang kebetulan diajak teman kuliahnya ke Kedungjati ini. “Kebetulan rumah teman saya di sini. Dia cerita kalau ada acara menarik di desanya. Penasaran saja. Akhirnya ikut. Pas sampai di sini ternyata di luar dugaan. Tradisi nenek moyang ini tetap digelar dan yang menarik para warga duduk mendengarkan dongeng tadi sampai habis tidak ada satupun yang keluar dari tempat duduk mereka,” katanya.

Di akhir acara, Bupati beserta rombongan menari tayub bersama dengan para penari dan warga masyarakat. Canda dan tawa terlihat saat menari bersama ini. (hana)

 

Tentang Penulis: Hana

Penulis yang independen yang sangat mengedepankan informasi yang akurat untuk memberikan edukasi yang baik dan benar kepada mayarakat luas

Komentar

Post Terbaru