oleh

Atlet Grobogan Kembali Berprestasi di Asian Paragames 2018

Terwujud Dengan Dua Medali

Tak pernah menyangka di benak Sugimin jika anak perempuannya, Sri Sugiyanti (24) berhasil mengharumkan daerah kelahirannya di ajang Asian Paragames 2018. Seolah berkata, inilah mimpi yang berhasil diwujudkan Yanti, sapaan akrabnya, pasca didiagnosa dokter menderita glaukoma dan menyebabkan kebutaan di kedua matanya.

Yanti, merupakan atlet para cycling yang berhasil mengharumkan Indonesia dengan menyabet dua medali, yakni perak dan perunggu. Kedua medali tersebut diperolehnya di ajang Asian Paragames 2018 beberapa waktu lalu.

Yanti sendiri berasal dari Desa Sengonwetan. Dia merupakan putri dari Sugimin dan alm. Suparti. Di rumahnya yang berstruktur dan berpapan kayu jati ini, Sugimin menceritakan sepak terjang anaknya hingga dikenal menjadi atlet para cyling ini.

“Saat lahir Yanti memiliki tubuh dan organ yang normal seperti teman sebayanya. Waktu duduk di SD, dia sangat cerdas. Baru pas masuk kelas lima, dia mengeluh sakit dikedua matanya,” kata Sugimin, saat ditemui di rumahnya.

Mengetahui ada yang tidak beres dengan Yanti, kedua orang tuanya saat itu langsung membawanya ke pusat kesehatan, baik secara medis maupun alternatif. Namun, usaha tersebut tidak berhasil. Sampai akhirnya, Yanti dibawa di Puskesmas setempat. Kali ini, dokter yang memeriksa mengatakan Yanti harus dibawa ke dokter spesialis.

“Saat dibawa ke dokter spesialis, dokternya bilang Yanti terkena glaukoma,” katanya.

Yanti, kata Sugimin, menangis saat dinyatakan kedua matanya tidak bisa melihat lagi. Sugimin hanya bisa pasrah. Di sisi lain, ia harus menguatkan Yanti agar tetap semangat menjalani hidup.

‘’Dia takut tidak bisa lagi meraih cita-citanya. Bahkan, setelah lulus SD, Yanti terus menangis minta sekolah. Saya jadi bingung waktu itu dan minta pertolongan pada Kepala Desa Sengonwetan, Prio Hutomo. Soalnua, sudah tiga tahun Yanti tak melanjutkan sekolah,” ujarnya.

Lulusan SMPLB YKAB Surakarta

Beruntung, Kepala Desa Sengonwetan, Prio Hutomo langsung memahami keinginan keras Yanti. Ia pun langsung mencarikan informasi Sekolah Luar Biasa di wilayah Kabupaten Grobogan. Meskipun ada, namun fasilitas untuk tuna netra seperti Yanti saat itu masih belum lengkap. Maka, Prio menganjurkan agar Yanti disekolahkan di antara dua SLB di kota besar seperti Solo dan Semarang.

“Akhirnya saya dan Yanti diantarkan pak Prio ke Solo. Yanti didaftarkan di SMPLB YKAB Surakarta. Sejak mengenyam pendidikan di sana, Yanti mulai mengenal dunia olahraga. Bahkan, dia sering mengikuti perlombaan olahraga,” tambah Sugimin.

Bakat Yanti di bidang olahraga pun terus bersinar. Berkat latihan rutin yang dilakukannya itu, ia selalu menang dalam setiap perlombaan. Terakhir, sebelum mengikuti Asian Paragames 2018, dua medali emas di Pra Peparprov Surakarta 2017 dan satu perunggu di Peparnas Jawa Barat 2016.

Dari mengikuti berbavai perlombaan, kemampuan Yanti di bidang olahraga terus terasah. Kemampuannya itu membuat gadis kelahiran Grobogan, 25 Agustus 1994 dapat bergabung dengan NPC.

Sementara itu Kades Sengonwetan, Prio Hutomo mengatakan, sosok Yanti merupakan pribadi yang mempunyai berbagai prestasi, baik di tingkat akademik maupun nonakademik. Karena itu, meski tak mendapatkan medali, kata Prio, Yanti perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Grobogan.

‘’Selain prestasi olahraga, Yanti ini juga berprestasi di bidang akademik. Saat lulus SMA di SMA 8 Surakarta, dia menjadi lulusan terbaik. Saat kuliah di UNS ini juga dia memiliki IPK 3,8. Ini sangat membanggakan. Kami harap pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Grobogan memberikan perhatiannya,” ungkap dia.

Saat ini perempuan yang berhasil masuk nomor Woman Time Trial Kelas B dan perak nomor Road Race Putri 70 km Asian Para Games, tengah menunggu dua nomor pertandingan lagi.

 

Tentang Penulis: Reporter Grobogan

Gambar Gravatar
Wartawan Grobogannnews yang kredibel, ulet serta berani untuk bersuara

Komentar

Post Terbaru