oleh

Tiga Desa Terdampak Kekeringan Parah

Terdampak Kekeringan Parah, Tiga Desa Di Tanggungharjo Dapat Bantuan Air Bersih

Sebanyak tiga desa di Kecamatan Tanggungharjo menjadi daerah terparah akibat kekeringan di musim kemarau ini. Ketiga desa tersebut yakni, Desa Mrisi, Desa Tanggungharjo dan Desa Ringinpitu. Sebagai bentuk perhatian terhadap ketiga desa tersebut, Perum Perhutani KPH Semarang mengadakan bakti sosial bertajuk “KPH Semarang Peduli Kekeringan”, Jumat (28/9/2018) kemarin.

Sebanyak 8 tangki air bersih disalurkan kepada masyarakat di tiga dusun, yakni dusun Mrisi (Desa Mrisi), dusun Karanggetas (Desa Ringinpitu), dan dusun Ngetuk (Desa Tanggungharjo). Mereka sangat antusias mendapatkan bantuan dari Perum Perhutani tersebut. Terutama di Desa Ringinpitu.

Kepala Desa Ringinpitu, Tulus Supriyanto, mengatakan bantuan tersebut sangat membantu warga di wilayah yang dipimpinnya tersebut. Ia pun berharap ke depannya, bantuan seperti ini dapat dilakukan secara berkesinambungan saat musim kekeringan tiba. Hal ini dikarenakan wilayah Desa Ringinpitu merupakan desa yang paling ekstrim terdampak kekeringan saat musim kemarau tiba. Hal tersebut membuat masyarakat setempat kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Diharapkan bantuan bisa berkelanjutan pada tahun tahun berikutnya mengingat daerah sekitar Ringinpitu daerah minim air bersih,” katanya.

Sementara itu, Kepala KPH Semarang, Fadjar Agung Susetyo mengatakan, kegiatan dropping air bersih ini merupakan bentuk kepedulian Perum Perhutani kepada masyarakat desa hutan yang mengalami kesulitan air bersih yang diakibatkan dari musim kemarau panjang ini.

“Kita membagikan air bersih sebanyak 8 tangki untuk masyarakat desa hutan di 3 desa, meliputi dukuh Karanggetas Desa Ringinpitu, dukuh Ngetuk, Desa Tanggungharjo dan dukuh Mrisi, Desa ‘”Mrisi di Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Kegiatan ini sekaligus wujud pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan KPH Semarang yang dilaksanakan rutin tiap tahun,  disampaikan pula kepada masyarakat,” tambahnya.

Sebagai inforrmasi, kekeringan di tiga desa ini semakin menjadi pascapergantian lahan hutan menjadi lahan pertanian. Rata-rata pepohonan di tahun 1990 tumbuh mencapai diameter 1 meter. Akan tetapi, saat ini telah berubah menjadi lahan jagung. Meskipun sektor pertanian meningkat, namun daerah serapan air hilang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Post Terbaru