oleh

Patut Dicontoh! Langkah Antisipasi Kampanye di Tempat Ibadah

Para Tokoh Agama Dan Masyarakat Jepon Tolak Keras Masjid Untuk Kampanye

Para tokoh agama dan masyarakat Kecamatan Jepon menolak keras penggunaan masjid sebagai sarana kampanye dalam masa-masa jelang pesta demokrasi 2019 ini. Sebagai wujud penolakan tersebut, di sejumlah tempat ibadah, khususnya masjid dipasangi spanduk penolakan terhadap para tokoh politik dan juga caleg untuk tidak berkampanye di masjid.

Hal tersebut seperti terlihat di Desa Balong, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Di sebuah masjid di desa tersebut, spanduk bertuliskan “Kami Pemuka Agama Desa Balong Kecamatan Balong Menolak Tempat Ibadah Tuk Kampanye, Isu Hoax dan Radikalisme” dipasang tepat di bagian atas masjid.

Pemasangan spanduk ini disaksikan langsung Kepala Desa Balong, Nyomo serta dua anggota masing-masing dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kecamatan Jepon. Nyomo sepakat bahwa masjid bukanlah tempat yang dapat dipergunakan untuk kepentingan politik praktis. Ia juga mendukung inisiatif pihak kepolisan yang mendapat respon positif dari masyarakatnya.

“Di desa kami sangat mendukung pemasangan spanduk ini. Kaitannya untuk mengantisipasi isu-isu yang simpang siur, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan efeknya bisa kena di kegiatan-kegiatan masjid. Kami juga himbau supaya para caleg dan tokoh politik lainnya tidak menggunakan masjid untuk kampanye baik Pileg maupun Pilpres,” ucap Nyomo. 

Meski di wilayahnya, tempat-tempat ibadah tersebut belum dijadikan tempat untuk berkampanye dari calon anggota legislatif, Nyomo tetap mengimbau agar para calon-calon tersebut menghormati tempat ibadah sebagai tempat untuk beribadah. Bukan untuk ajang berkampanye.

“Selama ini memang belum ada. Namun, tetap saya himbau semoga para caleg maupun tokoh-tokoh politik tidak kampanye di masjid. Biarkan masjid digunakan sesuai fungsinya,” tegasnya.

Sementara itu, hal yang sama diungkapkan Sunianto, Takmir Masjid Sirojul Huda di Desa Gersi, Kecamatan Jepon. Pihaknya juga menolak keras penggunaan masjid sebagai tempat yang dipilih caleg atau tokoh-tokoh politik untuk berkampanye. Khususnya di masjid tersebut.

Sunianto mengatakan, pihaknya bersama warga sepakat menolak berbagai macam bentuk kampanye di masjid tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga menolak masjid dijadikan tempat untuk menyebarkan berita hoax dan paham radikal yang dapat memecah belah bangsa. “Intinya, saya selaku takmir masjid tidak sepakat ada politik praktis di masjid. Masjid seharusnya dipergunakan sesuai fungsinya. Yaitu sebagai tempat untuk beribadah,” ujarnya.

Komentar

Berita Terbaru