oleh

Curahan Hati Wanita Berbobot 2 Kwintal

-TOKOH-149 views

Rina Dwi Budiarti, 37 tahun, merasa bahagia setelah suara hatinya didengarkan Pemerintah Kabupaten Grobogan. Perempuan yang memiliki berat tubuh 200 kilogram ini akhirnya dapat ditangani Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Grobogan. Keinginannya untuk mengembalikan bentuk tubuhnya ke posisi semula semakin kuat. Ditambah, ia dapat segera mendapatkan pengobatan.

Selama ini, ia hanya pasrah karena keterbatasan biaya. Namun, ia masih tetap berusaha mengobati dirinya dengan membeli obat ke tempat layanan farmasi terdekat. Itupun hanya jika ia mempunyai uang lebih.

Di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan tersebut, perempuan ini dikenal sebagai sosok yang pantang menyerah. Dalam kondisinya tersebut, ia tidak pernah mengeluh di depan orang banyak. Namun, pada malam hari, ia merasakan kesakitan yang tidak diperlihatkannya kepada orang lain yakni susah tidur.

Keinginannya untuk berobat ini didengar seorang wartawan yang kebetulan sedang meliput kegiatan di kompleks wisata Candi Joglo. Di tempat inilah, sehari-harinya Rina berjualan makanan kecil. Di hadapan wartawan tersebut, ia menyampaikan keinginannya untuk berobat, agar dia tahu mengapa tubuhnya semakin berkembang hingga memiliki bobot 200 kilogram tersebut.

Menderita Obesitas

Melalui media tersebut, pihak Dinas Kesehatan Grobogan langsung mendatangi kediaman Rina yang terlihat sederhana. Yakni di pinggiran jalan Raya Purwodadi-Solo, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Di sana, pihak Dinas Kesehatan bersama tim medis dari Puskesmas 1 Toroh langsung melakukan cek lapangan dan pemeriksaan.

Pihak Dinas Kesehatan yang diwakili M Abdul Rauf mengatakan, setelah pihaknya melakukan cek lapangan dan pemeriksaan, didapatkan hasil Rina menderita obesitas. Di samping itu, ia juga mempunyai riwayat penyakit Diabetes Melitus (DM).

“Dia pernah melakukan pengobatan yaitu membeli obat di tempat-tempat farmasi. Itu ‘pun kalau dia punya uang. Dengan adanya Dinas Kesehatan yang telah melakukan pengecekan dan pemeriksaan di lapangan dengan melihat keadaan ekonominya, maka kita usahakan menjadi peserta BPJS,” kata Rauf, nama panggilannya sehari-hari.

Meski telah didaftarkan menjadi peserta BPJS, Rina tidak bisa segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan karena kartu BPJS tersebut baru dapat diaktifkan per 1 Maret 2019. Meski demikian, jika terjadi keluhan, perempuan tersebut dapat berobat dengan mempergunakan Jamkesda.

“Tapi nanti kalau sewaktu-waktu ia mempunyai keluhan dan perlu adanya perawatan, dia bisa dirawat dengan menggunakan fasilitas Jamkesda,” ungkapnya.

Ditambahkan juga, pihaknya bersama-sama dengan Dinas Sosial melakukan sinkronisasi untuk melayani masyarakat Kabupaten Grobogan dan diharapkan tidak ada warga yang terlantar karena butuh perawatan kesehatan.

“Kita sudah siap. Dari dulu pun kita sudah siap. Kalau ada yang memang membutuhkan kami sepenuhnya siap,” katanya.


Perhatian Dinas Sosial

Pihak Dinkes Grobogan sendiri baru mengetahui adanya keluhan yang dialami perempuan berbobot 200 kilogram di Desa Krangganharjo ini karena mendapatkan laporan dari rekan media. Menurutnya, ia tidak mengetahui kalau ternyata Rina mempunyai keluhan sebab ia masih dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

“Saya tidak tahu kalau dia ini punya keluhan karena dia masih bisa beraktivitas seperti biasa, berjualan di tempat wisata Candi Joglo. Karena itu, adanya teman wartawan tadi, dia dapat mengungkapkan isi hatinya bahwa dia ingin melakukan pengobatan. Dia berobat jika ada uang saja. Maka dengan adanya BPJS nanti, diharapkan dia dapat dirawat dengan menggunakan fasilitas kesehatan tersebut,” kata Rauf.

Sementara itu, pihak Dinas Sosial turut memperhatikan kondisi Rina. Pihaknya akan mengusulkan bantuan kepada Bupati Grobogan, Sri Sumarni, mengingat hal ini masuk dalam ranah kebijakan bupati.

“Kami tetap menangani yang bersangkutan dengan mengajukan usulan kepada Bupati. Hal tersebut dikarenakan masuk ranah kebijakan Bupati. Apalagi ini termasuk keluarga tidak mampu. Jamkesda dan BPJS sudah diurus, nanti kami perhatikan dalam memberikan bantuan yang tidak direncanakan,” papar Kepala Dinas Sosial, Andung Sutiyoso.

Sebagai rasa syukurnya, Rina mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendengarkan suara hatinya tersebut. Termasuk membuat vlog ucapan terima kasih berbahasa mandarin. Kefasihannya dalam berbahasa mandarin ini diperolehnya saat ia menjadi TKW di Taiwan dan Malaysia.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama Pemkab Grobogan melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, juga masyarakat Kabupaten Grobogan yang telah memperhatikan saya dan akhirnya saya dapat segera tertangani. Semoga nantinya saya dapat sembuh seperti sedia kala dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa,” ungkap Rina. (Hana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Post Terbaru