oleh

Terciduk! 6 Pelajar Digiring Satpol PP

Nongkrong Saat Jam Pelajaran

Satpol PP Kabupaten Grobogan tengah menggencarkan operasi dengan fokus kepada pelajar yang membolos saat jam pelajaran berlangsung. Selama dua hari melaksanakan operasi, petugas menemukan beberapa pelajar yang ketahuan bolos sekolah.

Operasi pertama dilaksanakan Senin (4/2/2019) yang dipusatkan di Kecamatan Grobogan. Dalam operasi ini, petugas mendapati 25 pelajar terbukti membolos saat aktivitas kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dari jumlah tersebut, beberapa diantaranya masih berstatus pelajar SD.

Seluruh pelajar tersebut digiring ke Kantor Satpol PP Grobogan untuk dilakukan pendataan dan pembinaan.

Dalam rangkaian operasi tersebut, petugas juga memeriksa ponsel pintar yang dimiliki para siswa. Melalui pemeriksaan ponsel tersebut, petugas menemukan video konten negatif yang disimpan pelajar SD.
Operasi serupa dilanjutkan Rabu (6/2/2019) pagi. Dalam operasi ini, enam siswa dari sebuah SMK ternama terjaring razia di sebuah warung di Lingkungan Sambak, Kelurahan Purwodadi. Sebelumnya, petugas mendapati tujuh orang di warung tersebut. Namun, salah satu pelajar berhasil melarikan diri.

“Tadi saat sampai di warung, kami temukan ada tujuh pelajar. Tetapi satu orang terkejut dan langsung melarikan diri. Tersisa enam orang dan kami bawa ke kantor Satpol PP untuk dilakukan pembinaan,” ujar Sarjuning, Kasie Operasional dan Pengendalian Satpol PP.

6 siswa ini langsung digelandang ke Kantor Satpol PP Kabupaten Grobogan. Selain dilakukan pendataan dan pembinaan, ponsel pintar mereka juga tidak luput dari interograsi petugas. Sarjuning mengemukakan, tujuan dari pemeriksaan ponsel tersebut guna mengetahui ada tidaknya video berkonten negatif yang disimpan para pelajar.


“Kami juga melakukan pemeriksaan terhadap ponsel pintar yang mereka miliki. Kami lakukan ini sebagai langkah antisipasi jika ada konten yang melanggar aturan. Kalau ada konten yang dimaksud tersimpan di smartphone itu, maka kami sita ponsel mereka,” tambah dia.


Usai dilakukan pembinaan, para pelajar diminta membuat surat pernyataan supaya tidak mengulangi perbuatannya lagi. Pihak sekolah juga diminta untuk menemput keenam pelajar tersebut.


“Usai didata dan dibina, para pelajar ini kemudian kami serahkan kembali ke pihak sekolah,” pungkas Sarjuning.

Komentar

Berita Terbaru